Mawar Putih dan Cokelat Hitam

“Lho, kok liftnya mati?”

“Wah, iya. Lupa beli cokelat.”

“Apa?”

Lift di apartemen Blok 491 selalu begini, kata Ira. Yang baru hanya eksterior saja. Setiap beberapa tahun apartemen buatan pemerintah, atau HDB, dicat ulang. Beberapa taman bermain direnovasi. Ada gedung olahraga baru yang dibuat. Lift juga sebenarnya didatangi teknisi, tapi ya lihat saja hasilnya. Pohon-pohon Tembusu mengepung seluruh kompleks apartemen, membantu melambaikan angin yang menyapu kening Vinny yang sudah mulai berkeringat. Lantai dua telah mereka capai. Balkon yang setinggi dada terlihat seragam dan senada dengan apartemen seberang, hanya tertutup lift yang menjengkelkan tadi. Langit yang cerah membawa hawa lembab dari laut seberang, tak jauh dari Johor Baru, lengkap dengan sedikit aroma buih ombak yang menapis pinggir pantai. Ira menghilang ke koridor dan gemerincing kunci menggema sesaat. Unit dia berada tepat di sebelah lift.

Dibalik pintu tersembunyi tiga kamar tidur dan dapur sedang, lengkap dengan pemandangan apartemen yang seragam dan senada di jendela seberang ruang tamu yang menyambut mereka.

“Kamu kuat tinggal sejauh ini dari peradaban, Ra?”

Sembawang cuma pilihan aku satu-satunya, Vin. Lokasi dan fasilitas seperti ini dengan harga miring tak banyak di Singapura. Teman sekamar juga kebetulan orang Jakarta semua. Sambil menaruh belanjaan, Ira menyiapkan air panas di pot elektriknya dan teh tarik instan dua bungkus. Sudah seharusnya ia menjamu Vinny, teman karib satu universitas dia saat mengambil sarjana. Tiga tahun lalu mereka bertemu kembali di tempat kerja, berurusan dengan penjualan alat berat konstruksi yang disewakan oleh kontraktor di Indonesia. Perjalanan bolak-balik CGK-SIN sudah menjadi keseharian Ira. Pengalamannya di bidang teknis membuat tugasnya sebagai Quality Control Officer menjadi aset utama perusahaan. Ia menyewa apartemen disebabkan jangka waktu survei yang tidak singkat. Vinny yang berbekal ilmu sosial mengurus komunikasi antara nasabah dan perusahaan. Ia lebih sering berpencar di seluruh nusantara daripada menyusuri setapak jalan Orchard, yang menurutnya biasa saja.

“Akhirnya ketemu juga ya, susah amat ngintilin elo sampai sini, Ra.”

“Kalau bukan karena meeting tahunan mungkin lo yang udah di Papua Vin, haha. Nih, teh tarik.”

Bau manis teh bercampur susu mengisi ruang tamu, lengkap dengan dentingan cangkir yang mengetuk meja. Uap tipis berpadu dengan udara laut lembab yang juga terkondensasi di kacamata Vinny. Tawa Ira terlepas setelah melihat gerutu dari wajah sawo matang temannya.

“Eh sebentar, buat apa tadi urusan coklat? Kenapa Jaka Sembung gitu?”. Tawa Ira menghilang. “Ceritanya panjang, ga mau ngobrolin yang lain?”

Vinny tidak peduli. Sudah disuruh membantu bawa belanjaan semestinya tidak dibuat penasaran juga. Diletakkannya cangkir setengah kosong dengan perlahan. Niat awal Ira adalah berbicara santai dengan teman dan rekan kerjanya sambil bernostalgia, tapi memang salahnya sudah mengatakan tentang cokelat Koh Richo. Siapa itu, tanya Vinny. Tetangga sebelah, gue di sebelah kanan lift, dia di kiri.

***

Koh Richo sudah lebih lama tinggal di Sembawang daripada aku. Selepas pernikahannya lebih dari satu dasawarsa yang lalu, dia melanjutkan mencari pekerjaan di Singapura. Aku menemuinya saat mulai menyewa apartemen. Koh Richo kerap sampai ke apartemen di waktu yang sama denganku; Ia sekilas mendengar Bahasa Indonesia di percakapan ponselku, dan menyapa duluan dengan ramah senyumnya. Semenjak itu, kami sering makan bersama setelah sampai di apartemen. Koh Richo, yang nama aslinya Richo Anas Ravena, adalah warga asli Kediri. Tidak ada keturunan Tiongkok yang ada di silsilah keluarganya, tapi raut wajah dan matanya membuat panggilan Koh Richo bagian dari dirinya. Apalagi setelah menikah dengan istri, candanya. Christine Lin, atau Mbak Irin (dia memilih untuk dipanggil dengan nama ini, terasa lebih santai katanya), menyiapkan semua makanan dengan senyum yang sama dengan Koh Richo, penuh dan pasti.

Pertemuan mereka, cerita Koh Richo dengan tawa kecil, dibubuhi serba kebetulan. Koh Richo yang saat itu sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (salah satu keharusan di universitas lulusannya, apalagi untuk jurusannya yang berhubungan dengan Teknik Industri) perlu mengajar di salah satu kota di daerah. Pilihannya adalah Muntok, Bangka Barat.  Koh Richo tertarik dengan sejarah penambangan timah yang dulu dikepalai oleh Belanda, membekas di berbagai konstruksi bangunan kolonial yang tersisa. Kota yang dulu sempat menjadi ibukota Bangka (sebelum dipindahkan ke Pangkal Pinang 1907) ternyata adalah tempat tinggal sanak saudara Mbak Irin. Mbak Irin mampir untuk berlibur di kala itu untuk melihat ombak meriap dan melabuh di pelabuhan. Koh Richo berpapasan dengannya (di dua hari terakhir sebelum Mbak Irin pulang, sementara dirinya baru seminggu beradapatasi dengan air asin saat mandi) ketika senja musim penghujan 2002, di saat langit agak mendung bertemu awan yang menggulung, membiaskan cahaya matahari sedemikian rupa agar rona wajah mereka berdua berpendar emas. Pernikahan mereka diadakan di Kebayoran Baru dua tahun kemudian.

Di Jakarta tidak ada pemandangan seperti Muntok, kata Mbak Irin. Bentangan gedung dan beton mungkin bisa dinikmati orang lain, tapi sulit bagi seorang ahli botani. Hiaju rerumputan dan rindang pohon yang  mengelilingi pesisir pantai berbeda dengan pohon-pohon Akasia yang ditanam berjajar di pembatas jalan. Aku ingin melihat mereka bisa bebas dan menjadi bagian dari alam, ekosistem, dan biota tempat mereka berasal. Wajahku mengganguk ketika Mbak Irin menjelaskan satu demi satu dengan rinci setiap tanaman di rumahnya. Aku disarankan mengambil beberapa, tapi kemampuanku merawat kaktus saja tidak becus; mati dalam dua minggu karena diberi banyak air. Kutanya apa favoritnya: Rosa Canina. Mawar Putih.

“Yang di depan lift tadi? Vas kaca kan?”

“Ya, masih ada kan bunganya tadi?”

“Masih seger banget, Ra. Hampir gue ambil tadi. Tapi sekeliling koridor lo gak ada taneman lain. Di dalem rumahnya ya?”

“Oh. Soalnya mereka udah gak di sini”, sedikit berbisik.

Maret tahun lalu adalah hari di mana Koh Richo pulang larut. Pekerjaannya sebagai analis data salah satu perusahaan elevator tidak seharusnya menjaganya lebih dari jam kantor. Pintu unit terkunci, dengan catatan bertuliskan “Ira, aku lagi perlu check up ke dokter, besok saja ya saya bungkusin mangganya. Irin.”. Esoknya Mbak Irin tidak mengantarkan mangga. Pintunya masih terkunci. Begitu juga hari setelahnya. Dan hari setelahnya. Tiga hari kemudian, aku diberitahu Koh Richo mereka akan pergi ke Malaysia untuk beberapa saat. Kunci dititipkan ke aku, dikirim via pos dan sekali lagi dengan catatan yang kali ini bertuliskan “Ira, maaf ya belum sempat aku antar. Koh Richo bilang kamu bisa ambil sekarang, keburu basi. Aku titip rumah sebentar ya, ambil bunga sesukamu.”

***

Perjalananku ke Mampang sudah melewati batas dua jam. Di saat pulau kecil yang tidak lebih besar daripada Jabodetabek sudah memiliki bis dua tingkat, di sini pejalan kaki berbagi tempat dengan sepeda motor dan tukang bakpao. Taksi yang kunaiki nyaman, tapi dingin yang tidak mengenakkan. Angin artifisial menerpa wajahku sementara matahari pukul 14.00 menyinari terik menembus kaca. Hujan bulan Juni tidak kunjung datang. Hanya segelintir awan yang mau menghadiri langit biru itu. Kulihat lagi pesan singkat di ponselku. Tidak salah lagi. Pesan singkat dari Koh Richo. Semenjak catatan terakhir kiriman Mbak Irin sampai aku belum mendengar lagi kabar dari mereka. Di hari di mana aku akan menemui keduanya, aku berada di rumah sakit. Ini rumah sakit yang dulu aku dilahirkan. Aku ke sini tidak sakit. Aku tidak berkeringat. Aku tidak merasa lelah dan letih dan sakit di antara tulang dan berbercak merah di kulit. Sel darah merah aku tidak berperang dengan sel darah putih yang tiba-tiba menjadi tidak suka dengan tubuhku sendiri. Mencabik-cabik keping darah dan mencuri hemoglobin berharga tanpa komando atau perintah. Itu adalah bagian dari leukimia dan itu adalah bagian dari Mbak Irin. Rujukan ke RS di Malaysia hanya membuktikan keberadaannya. Meski umur belum senja, mutasi kromosom dalam DNA Mbak Irin memacu sel darah putih untuk bekerja tanpa henti, melewati jam kerja, mencari pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan. Kubayar taksi dingin itu dan aku disambut dengan lembabnya musim panas Jakarta hingga kulewati pintu kaca lobbi utama. Kutekan tombol elevator ke lantai lima. Ruang 521. Suara sepatuku mengetuk memecah sunyi. Kuning pastel tua yang menyelemuti dinding membanjiri seluruh koridor, hingga aku berhenti di ruangan paling ujung di sebelah kanan. Bunyi langkah kaki dan bisikan pelan terdengar dari balik pintu. Aku memuntir gagang pintu, membuka dengan lembut  dan disambut dengan keluarga Koh Richo dan Mbak Irin. Kami berdiam dan berbicara hanya dengan tatapan, Koh Richo menoleh dan menengadah dari kursi yang ia duduki. Aku melangkah perlahan menuju dipan. Di balik tirai terpajang buah-buahan dan sebuah rangkaian bunga Rosa Canina, ada yang putih sempurna bagai salju dan ada satu tangkai yang mahkotanya ditetesi jambu muda. Terbaring adalah tetanggaku di Sembawang, yang selalu telaten dalam merawat seluruh bonsai di rumahnya dan memasak ikan bakar yang tidak terlalu gosong, tapi matang. Wajahnya sayu dan mengurus, tapi senyumnya masih ada. Masih pasti. Halo, Mbak Irin.

***

Vinny menyeruput teh tarik. Ruang tamu itu senyap. Hanya bayangan mereka yang berbicara di atas taplak meja bunga. Uap dari teh tarik Vinny melarikan diri ke jarak di antara mereka berdua, menghilang dan menyatu dengan lembabnya udara musim kemarau. Maaf Ra, gue gak bermaksud. Wajah Ira tetap datar. Ia sudah melalui apa yang sudah dilalui. Ia ingin menikmati keberadaan temannya, bukan kekosongan Mbak Irin.

“Kalau masih penasaran, setiap tanggal 14 selalu ada mawar putih dan pasti lift-nya berhenti. Taruh cokelat hitam di depan vas bunga tadi, besok jalan lagi lift-nya. Gue belum pernah denger dari Koh Richo lagi semenjak penguburan Mbak Irin. Kelewatan juga karena ada meeting di Hongkong.”

“Kenapa coklat hitam?”

“Itu yang ditawarin Koh Richo di pantai Muntok buat kenalan.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s