Khianat

Ranah mimpi adalah kumpulan cerpen yang terinspirasi dari mimpi saya. Memang tidak persis sama, tapi alur utamanya tidak berubah. Beberapa bagian ditambahkan agar sesuai tema dan logika. Untuk cerpen lain yang berbahasa Inggris, silahkan lihat Dreamscapes.

***

     Ketika matahari baru saja benar-benar meninggalkan langit, kami tiba di Rumah nenek. Tidak seperti biasanya, rumah nenek yang kami datangi ini bukan yang pernah aku jajaki saat aku kecil. Ia  menghadap ke pagar kompleks, menunggu siapa saja yang akan bertamu malam itu.

Hari kedatangan kami selalu seminggu sebelum lebaran, sehingga acara sakral seluruh nusantara—mudik tahunan—dapat kita rampungkan dalam waktu singkat, mendahului mereka yang menunggu hingga detik-detik terakhir perayaan tahunan itu. Sambutan kami di kompleks itu singkat, sekedar lambaian tangan dari satpam dan suara-suara serangga mengantar kami ke depan teras. Nenek yang mengintip dari jendela akhirnya keluar dengan wajah berseri-seri. Hari ini istimewa, karena nenek baru saja selesai memindahkan semua barang dari rumah lamanya dan malam pertama nenek menginap di rumah baru. Pindahan nenek yang dibantu tetangga diselesaikan dalam tiga hari, meskipun sebenarnya nenek bisa mengerjakannya sendiri. Ia, meski kuat melakukannya sendiri, menuruti saran mereka. Nenek yang diajarkan mandiri sejak kecil tidak suka merepotkan orang lain, namun ia terima saja. Kalau tidak, semuanya juga akan memaksakan untuk membantu, ucapnya lewat telepon beberapa hari yang lalu.

“Enakan begini, tho?”

“Masih enakan yang dulu nek, luas halamannya”

Sebenarnya aku merasa tidak nyaman dengan lingkungannya, tapi kurasa hanya perlu adaptasi sesaat. Kupikir hanya aku yang merasakannya, karena seluruh keluargaku terlihat biasa saja.

“Ayah mau liat-liat kompleks-nya sebentar ya”

“Aku ikut” kata aku dan adikku bebarengan. Kami meninggalkan ibu di rumah bersama nenek, yang sepertinya mereka sudah mengobrol sendiri. Bayangan mereka hilang dibalik pintu dan aku mengikuti ayah di bawah cahaya bulan purnama.

Langkah kami menyusuri kompleks terdengar menggema, menghidupi rumah-rumah yang, ternyata, tidak ada penghuninya. Seluruh rumah yang ada di kompleks itu seragam, sekelilingnya berwarna krem pudar, dengan lampu kuning membasahi dinding yang lapuk disantap waktu. Setiap rumah memiliki teras kecil, di mana tembok sepinggang menjadi pembatasnya.  Dihiasi furnitur sederhana, salah satu teras memiliki kursi plastik berwarna hijau pucat dan meja pendek dengan asbak di atasnya. Selain rumah-rumah yang diterangi lampu teras, tidak ada lagi lampu. Tembok beton tinggi menutup kompleks kecil sehingga jalur masuk hanya melalui pagar depan.

Setiap rumah yang kami lewati, pintu dikunci rapat, jendela ditutup seperti akan ada badai, dan tidak ada jejak manusia yang dapat terlihat. Malam dingin itu kami hanya bertiga menyusuri kompleks baru rumah nenek. Satpam yang di pos pun tidak terlihat lagi.

“Pulang kampung semua ya?”, tanya adikku, namun seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

“Tapi, ini kan kampung”, balasku.

Setelah aku mengatakan empat kata tadi, aku menoleh ke belakang dan melihat serigala.

***

Pagar depan sudah tidak ada. Sekelebat bayangan putih menyusuri sudut pandang kami. Aku membersihkan kacamata dengan bajuku, dan melihatnya sekali lagi. Di balik kegelapan bayangan, tidak salah lagi itu adalah serigala. Putih keabuan, kepalanya sebesar dada manusia. Menyeringai mengusung gigi-gigi putih berkilau, berlumuran air liur menetes membanjiri tanah di bawah cakar di kakinya. Badan serigala ini besar, bagaikan jelmaan beruang kutub kotor yang lama tidak berburu anjing laut. Bulunya yang diterpa hembusan angin terlihat halus. Tidak ada suara yang terdengar di tiap langkahnya, pelan dan yakin. Dua serigala lain muncul di belakangnya, menyebar, mengendus menyusuri kompleks. Kami bertiga menyelinap ke salah satu teras rumah yang lampunya padam. Kami hanya bisa mengintip dari sela-sela kursi bambu.

“Apa itu?”, bisikku. Suaraku berat, ucapannya seperti bukan diriku sendiri.

“Serigala. Sepertinya.”. Wajah ayah tidak menunjukkan emosi saat mengatakannya. Namun aku sudah tahu dia selalu memenggal kata-katanya saat sedang panik. Dia tidak menunjukkannya saja.

Serigala-serigala itu mulai mendobrak pintu rumah, hantaman cakar mereka mengenai pintu dengan kasar, suaranya nyaring memecah kompleks yang hampir tidak berpenghuni itu. Anehnya, mereka tidak menuju rumah nenek. Penciuman mereka cukup tajam untuk mengetahui aroma kami yang telah menyusuri jalan kompleks. Ketika melihat tidak ada manusia di mana pun, mereka melolong. Lolongannya lantang sekali. Aku tak percaya jika tidak terdengar hingga ke ujung bumi. Suaranya berbeda. Perih, membuat telingaku menyerah mendengarkan dunia dan apapun isinya. Suara ini, seperti suara orang sakit. Sakit sekali. Sakit yang melebih apapun yang pernah dirasakan manusia. Menusuk, tapi hampa. Keadaan mereka bagaikan di ambang kenyataan dan mimpi. Menggetarkan tapi tidak ada yang mendengar. Ramai tapi sendiri. Semua terasa dari lolongan terkutuk itu.

Mataku terkunci dengan salah satu serigala. Persis ke mata serigala yang paling besar. Dia dapat melihat bola mataku yang dipenuhi ketegangan otot dan keringat dingin mengucur dari berbagai titik di keningku. Dua detik penuh kami bertatapan. Bagiku terasa dua tahun. Lalu langkahnya menuju tempat kami bersembunyi.

“Ayo, cepat. Cepat. Pindah. Di. Sini. Bahaya.”, penggalan khasnya muncul.

“Kemana? Nanti kita ketahuan!”

“Kita udah ketahuan! Bawa. Adikmu!”

Badanku setengah kaku. Ayah menyergap tangan adikku, membawa dia keluar dari teras kecil itu menuju, ke mana lagi, selain tembok beton tinggi tadi. Tidak ada lagi tempat melarikan diri. Aku sudah putus asa ingin menuju ke mana. Aku menyusul dan berhenti sejenak. Serigala itu sudah di depan mata dengan derap setengah meloncat tepat ke arahku. Aku terjatuh, terdorong oleh badannya dan cakarnya yang sekarang berada di atas kedua bahuku. Bulunya yang lebat seperti salju menutupi seluruh pandanganku. Kini jarakku dengan binatang itu tidak lebih dari satu jengkal dan ia memberikan raungan terakhirnya yang memekikkan telinga. Erangannya, setelah kudengar lebih dekat, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ya! Aku bisa mendengar apa yang dia ucapkan.

“Ssaaakkh… iiiitt… Saaakhiitt”, kata-kata itu terdengar jelas, telingaku sudah hampir pecah. Beberapa kali kudengar kata itu. Aku, di saat-saat tidak mungkin memiliki pilihan lain selain menerima takdir, memutuskan untuk bertanya. Mau apa lagi? Lebih baik daripada penasaran.

“Kamu… Kenapa sakit?”

Seketika setelah aku mengucapkan pertanyaan itu, serigala itu berubah menjadi manusia. Ya, tidak salah lagi, serigala yang berhias taring tajam dengan bulu putih keabuan tadi menjelma menjadi manusia. Ia dalam keadaan setengah membungkuk, menghadapkan wajahnya ke diriku. Aku mendapatkan kekuatan untuk bangun, dan melihat keseluruhan dari perubahannya. Serigala yang menerkamku adalah bapak-bapak berumur setengah baya, berwajah sawo matang, dengan kumis yang menutupi bagian atas bibirnya. Ia terlihat buncit dengan wajah yang sudah mulai berkeriput, disandingnya baju sederhana berwarna putih, dengan celana bahan hitam. Badannya sempoyongan melangkah ke diriku hampir terjatuh, mulutnya bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu.

“S-saya…punya penyakit”, suaranya serak, seperti tidak minum selama satu windu.

“Penyakit apa pak?”

“Penyakit Khianat. J-jadi saya berubah menjadi serigala…”

Aku terdiam. Sekilas aku mengintip di belakang bapak itu. Kedua serigala tadi sudah tidak ada, hanya seorang wanita mengenakan daster kain sederhana berwarna hitam merah dengan raut tercengang dan seorang anak laki-laki seumuran denganku yang mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek. Mereka bertiga tidak beralas kaki. Semuanya seperti baru keluar dari rumah ingin mencari makan malam. Tidak ada yang tidak wajar dari mereka.

Kami memutuskan untuk mengundang mereka ke rumah nenek. Kami persilahkan mereka duduk, menjamu mereka dengan minuman seadanya, dan mendengarkan cerita mereka di ruang tamu baru kami. Bapak itu berkata bahwa dia beberapa tahun yang lalu sempat berbuat sesuatu pada teman lama, yang dapat dikatakan dia mengkhianatinya. Semenjak tahun lalu dia dan keluarganya terjangkit penyakit Khianat. Penyakit yang mereka katakan dapat terjadi pada beberapa orang. Bapak itu melanjutkan, suatu malam saat mereka bertiga berada di rumah, mereka bertiga berubah menjadi serigala. Badan mereka menjadi sebesar beruang, bulu-bulu panjang tumbuh dari setiap sela-sela tubuh mereka, jemari mereka membengkak menjadi cakar berkuku tajam dan panjang, suara mereka berat, kasar, dan tidak dapat dipahami manusia lagi. Malam itu seluruh kampung runyam dan rusuh, para warga yang bersenjatakan obor dan senapan memburu keluarga itu hingga ke dalam hutan dekat gunung. Hanya ada satu hal yang dapat mereka lakukan apabila ingin sembuh, yaitu dengan menceritakan perbuatannya kepada seseorang. Setiap akhir bulan, mereka bertiga turun dari gunung berusaha mencari orang yang dapat berbicara dengan mereka, agar mereka dapat lepas dari penyakit terkutuk itu. Para warga sudah mengantisipasi dengan mengunci rumah dan pergi ke kampung sebelah. Bapak itu mengatakan bahwa ia ingin agar aku menjaga rahasia perbuatannya dengan tidak menceritakannya kepada orang lain. Jadi, aku tidak akan menceritakannya.

Satu jam kemudian, mereka berpamitan pulang. Dibekali dengan sandal murahan di rumah nenek, mereka berjalan menghilang keluar pagar. Bapak itu sesekali melihat ke belakang, merapatkan kedua tangannya seraya memohon maaf atas kerusakan yang telah dia buat, dan pergi. Tidak ada lagi serigala yang datang malam itu.

***

     Tiga hari setelah lebaran, aku dan keluargaku sudah bersiap menikmati arus balik mudik berbekal oleh-oleh dari nenek, baju baru jahitan ibu, dan sambutan hangat dari ketua RT setempat. Sinar matahari hangat membasuh kami di tengah suasana meriah Idul Fitri. Para warga, dengan persembahan opor ayam yang aromanya menjajah seluruh kompleks, sempat berdiskusi dengan kami tentang permasalahan serigala beruang jadi-jadian itu, dan berterima kasih atas bantuan kami. Aku masih tidak yakin jika semua serigala di hutan itu sudah binasa. Tak mungkin penyakit Khianat bisa dihilangkan dengan seketika.  Namun, di sela-sela kesibukan menjejali barang-barang ke bagasi mobil, kini aku punya alasan kedua untuk mengunjungi tempat Ibunda dari Ayahku: melihat keberadaan serigala di rumah nenek.

 

Singapura, 21 April 2017

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Gw jd ngeri sendiri membayangkan serigala, tp klo kaya jacob eeeA

    Like

    1. tim twailait yaa wkwk

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s