Bedah Buku: Bom – Putu Wijaya

Berhubung beberapa topik yang ingin saya tulis cukup panjang dan perlu banyak waktu, saya selingi kiriman tiap minggu dengan Bedah Buku. Tidak seperti How-To atau analsis besar, saya hanya memberikan pendapat saya (yang notabene sangat subjektif) tentang buku-buku yang sudah saya baca. Jika Anda merasa tidak sependapat dengan saya, tidak apa-apa karena memang tujuan dari Bedah Buku ini adalah untuk membagikan sudut pandang saya saja (dan sudut pandang Anda jika juga ingin berbagi).

Rencana awal saya untuk bergantian menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tapi berhubung minat baca di Indonesia cukup rendah, sebaiknya saya langsung saja di Bahasa Indonesia seterusnya. Ulasan buku dalam bahasa Inggris juga saya tulis dalam Bahasa Indonesia. Selain sudah banyak buku yang diterjemahkan, pembaca yang bisa berbahasa Inggris juga bisa ‘menyegarkan’ bacaannya dengan membaca Bahasa Indonesia.

PS: Spoiler Alert! Ulasan ini mengandung kutipan dari dalam buku, sebaiknya Anda membacanya dulu agar lebih seru 🙂

Bom – Putu Wijaya

Skor: 8,3 / 10
Singkat, sangat beragam, khas Putu Wijaya

Karya-karya Putu Wijaya yang telah saya baca (Pabrik, Byar Pet) selalu dibawakan dengan bahasa yang ringan dan diakhiri dengan sesuatu yang tidak diduga. Berbeda dengan Pramoedya yang mendeskripsikan lingkungan dengan detil yang rinci dan menggambarkan suasana dengan kata-kata, Putu Wijaya memberikan nafas kesederhanaan dalam karyanya, membuat yang berdarah biru dan royal menjadi manusia-manusia biasa. Selain itu, tidak jarang cerpen-cerpen Putu Wijaya membuat pembaca merasa kebingungan karena beliau langsung membawa kita ke adegan utama, tanpa ada pendahuluan atau latar belakang. Kumpulan cerpen ini menunjukkan dengan jelas gaya penulisan Putu Wijaya yang sangat khas.

Bom adalah 17 cerpen Putu Wijaya yang diterbitkan tahun 1992. Karya-karya ini sudah pernah diterbitkan di media massa dan dikumpulkan oleh penerbit Balai Pustaka. Cerpen-cerpen ini sebagian besar ditulis pada tahun 1978 dan beberapa tahun-tahun sebelumnya. Cerpen pertama yang berjudul Kalau Boleh Memilih Lagi adalah cerpen yang menceritakan seseorang yang menemukan bom di kamarnya.

     Waktu Oki bangun, di sampingnya ada bom. Menyangka ini sisa-sisa dari mimpinya, ia acuh tak acuh saja. Ia tangkap saja dan memeluknya seperti guling. Tidurnya berkelanjutan lagi untuk beberapa jam. Tatkala ia bangun terlambat esoknya, bom itu hampir menindih kepalanya.

Beberapa hal yang bisa kita lihat dari kutipan di atas:

  • Pembaca langsung di bawa ke adegan/permasalahan utama, bom yang muncul tiba-tiba di kasur
  • Meskipun ada sesuatu yang berpotensi sangat menegangkan dan melibatkan banyak orang, gaya menceritakan suasana seperti kehidupan sehari-sehari Oki seperti biasa.
  • Nama Oki sangat lazim, bukan nama yang istimewa sama sekali
  • Bahkan Oki pun merasa bahwa ini adalah hari biasa dengan sikap memperlakukan bom sebagai guling

Cerpen tersebut dilanjutkan dengan bagaiman Oki bisa menyelamatkan dirinya dan orang-orang yang ia sayangi dari bom tersebut. Oki yang merasa naik ke tiang bendera untuk menyelamatkan orang lain justru dilawan dengan orang lain yang pikirannya berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Ada perang yang terjadi antara pendapat Oki vs. apa yang dilihat orang lain. Semacam perang batin yang tidak terlihat orang lain. Cerpen-cerpen lain ternyata juga membawa tema ini.

Firasat dan Menoleh ke Belakang adalah contoh cerpen yang membawa tema perang batin tersebut. Firasat dengan narasi yang membuat seseorang gila dan menembak temannya sendiri, dan Menoleh ke Belakang dengan keharusan seorang istri untuk selalu melihat ke belakang. Keduanya berada di kehidupan pasangan suami istri menjalani kehidupan biasa, hingga pada suatu saat semua berubah hanya dengan hal kecil seperti menengok atau berfirasat.

 Selain tema perang batin, kita juga dapat melihat beberapa cerpen seperti Korban dan Masak yang mempertanyakan tentang sudut pandang kita sendiri. Korban menceritakan seseorang yang menuju ke dokter dan berbicara panjang lebar ternyata adalah halusinasi yang hanya dibayangkan oleh seorang Ayah, di mana yang sakit kerasa adalah justru Ayah tersebut. Sementara itu dalam Masak, para pejabat Kementrian Agama dan bosnya ditemui oleh seseorang yang ingin menemui Tuhan dan mengaku-ngaku telah menemukannya di kantin; alangkah kagetnya sang bos yang kemudian percaya-tidak percaya dengan pengakuannya. Kedua cerpen tersebut menekankan bahwa logika kadang tidak bisa memberikan kenyataan yang sebenarnya, bahkan di hal terkecil seperti mempercayai perkataan orang lain.

Kumpulan cerpen ini beragam, menarik dan sangat mudah dinikmati bagi para pembaca yang baru mengenal Putu Wijaya. Gaya penulisan yang khas membantu kita menengok kembali ke suasana kehidupan di tahun 1970an. Meskipun ditulis hampir 40 tahun yang lalu, tema-tema seperti perang batin dan mengintip sudut pandang orang lain masih sangat relevan hingga saat ini.

Kutipan favorit saya:

Aku raih ranselku. Aku periksa isinya. Masih tetap sebagai sediakala. Kemudian aku buka topengku. Lengket sekali. Mukaku sudah berdarah. Aku menghapus darah itu dengan kertas. Kemudian dari dalam ransel itu aku keluarkan topeng lain, langsung memakainya. Aku masih merasa perlu menghitung jumlah topeng-topeng itu kembali. Semuanya ada sebelas buah yang aku harus pakai setiap hari. Sesudah yakin jumlahnya tidak berkurang, aku baru pulang.

Dikutip dari Iri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s