Mas, Kalo Fisika Itu Perginya Ke Mana Yah?

This post is about the career options and expectations as a physics graduate (Bachelor). It is in Indonesian. To translate, either go to google translate or use chrome and allow it to translate the page.


Setelah kurang lebih 5 bulan di Singapura menjalani kuliah S2, tiba saatnya untuk saya kembali ke kampung halaman. Memang, sebulan sebelumnya orang tua saya datang untuk menengok,  tapi namanya siomay itu tidak bisa didapatkan di mana saja selain, ya, di Indonesia.

Hidup sendiri selama berbulan-bulan (5 bulan lebih dari 1 kan) membantu saya untuk mempelajari banyak hal, salah satunya adalah memasak. Di hari ke-3 saya di Indonesia, saya pergi ke pasar dekat rumah dengan ibu saya, dan bertemu dengan tetangga. Mendadak ibu saya teringat untuk memberi oleh-oleh kepada si ibu tetangga ini. Saya ditinggal sendiri dengannya. Tidak lama kemudian:

“Kerja di mana, Mas?”

“Oh saya kuliah, Bu. Di Singapur. Kebetulan lagi libur sekarang.”

“Oalaah. Jurusan apa?”

“Fisika, Bu.”

Kira-kira sudah tahu ya apa pertanyaan selanjutnya dari tetangga saya. Singkat cerita, saya mengumpulkan beberapa informasi mengenai Fisika, lulusannya, dan potensi bidang karir yang dapat digeluti. Bagi kalian yang baru saja masuk Fisika di universitas — dan merasa bimbang, menyesal, atau mungkin senang — baca sampai habis ya 🙂

Fisika di Universitas

Tentu saja tetangga saya tidak dapat merepresentasikan keseluruhan masyarakat, atau bahkan dapat dikatakan publik. Tapi, ini bukan kali pertama saya ditembak dengan pertanyaan ini. Sanak saudara, teman, bahkan supir taksi pun bisa menanyakan hal yang sama.

Bukan mengatakan bahwa mereka seharusnya yang mengetahui tentang hebatnya, megahnya, sangat berpengaruhnya Fisika, tapi lebih menuju kira-kira apa ekspektasi orang lain saat mendengar bahwa seseorang adalah fisikawan. Apa yang mereka harapkan, merek ketahui. Jika ada sesuatu yang terlewat, kira2 apa itu?

381900_2896885471832_1362721860_n
Wajah berseri-seri menikmati hari-hari yang penuh dengan rumus (2012)

Saya mendapatkan kursi di Universitas Indonesia setelah mengambil tes SIMAK UI. Alasan saya tidak mengambil SNMPTN adalah karena tidak sempat. Ijazah saya dari sekolah internasional di Shanghai belum dilegalisir dan juga belum keluar. Alhasil saya masuk sebagai S1 Fisika Paralel. Setahun pertama saya dilalui dengan bertemu banyak teman yang “nyemplung” ke Fisika.

Tentunya, ada bintang kejora di balik anak-anak yang lugu dan lucu itu. Mereka yang menghadapi soal UTS dan UAS dengan mengajari satu kelas bagaimana cara membuat Langrangian dan Entalpi dan Entropi. Saya bisa jamin cinta mereka terhadap Fisika cukup tulen, minimal lebih tulen daripada saya waktu itu.

Tapi ada juga yang seperti saya. Pilihan pertama saya adalah Matematika. Pilihan ke-2 adalah Fisika. Secara teknis, saya nyemplung.

Saya tidak masuk ke pilihan yang saya inginkan. Ada beberapa yang mengatakan saya sebaiknya istirahat setahun dan menunggu lagi jika ada pilihan yang lebih baik. Akhirnya saya memilih tetap.

Selagi saya di menjalani S1, banyak rumor dan gosip yang menyebar. Salah satunya adalah Fisika — dan bahkan MIPA secara umum — sempat menjadi buah bibir untuk menjadi tempat singgah. Tempat singgah menuju fakultas lain. Di tahun pertama, pelajaran Sains SMA diajarkan kembali untuk review, dan sekaligus ditambah. Ini agar mempersiapkan mahasiswa untuk menerima konsep yang lebih dalam.

Tahun pertama bagi mereka yang berniat mencoba ujian SNMPTN, SBMPTN, tahun depan adalah seperti bimbingan belajar kilat. Mata kuliah yang diajarkan sama dengan isi tes-tes itu. Soal ujian yang tadinya menggetarkan nyali seseorang menjadi latihan soal yang biasa di kelas. Meski sulit sudah ada kisi-kisi dan cara mengerjakannya. Alhasil, beberapa berhasil lolos dan mendapatkan pendidikan di tempat lain.

Saya tidak mengatakan bahwa berpindah, atau berusaha untuk mencari kesempatan lain, yang mungkin lebih baik dan lebih cocok untuk diri sendiri, adalah hal buruk. Saya senang dapat melihat kesuksesan yang digapai teman saya di tempat lain, yang bahkan tidak mungkin terjadi jika tetap berada di jurusan saya ini.

Tapi sebagai fisikawan, saya tidak dapat memungkiri bahwa saya senang menganalisis lingkungan saya. Observasi saya pada tahun pertama adalah seperti yang telah saya sebutkan. Fisika bukanlah menjadi tujuan utama bagi sebagian yang masuk jurusan itu. Yang perlu diketahui adalah, mengapa?

Apakah karena prospek kerja yang tidak lebih dari menjadi dosen dan mengajar? Apakah karena sedikit posisi di lapangan kerja yang menerima mahasiswa lulusan Fisika? Apakah karena persepsi bahwa Fisika adalah ilmu yang sulit dipelajari?

Hasil Kerja Keras 4 Tahun

Bagi yang sudah lulus, selamat! Selamat datang di kenyataan.

feature__lifepostbu1
Ini wajar, tenang saja

Banyak artikel dan jurnal ilmiah membahas tentang tenaga kerja yang berkaitan dengan bidang sains; tulisan mereka berpusat dengan istilah yang disebut STEM (Science, Technology, Engineering, and Maths). Dalam terminologi STEM, jurusan yang termasuk dalam rumpun ilmu ini antara lain jurusan MIPA, Teknik, dan IT. Artinya, kamu adalah lulusan STEM.

Tapi tunggu, perbedaan antara fakultas-fakultas ini bagai bumi dan langit! Tidak bisa disamakan. Di mana Teknik adalah tiket untuk mendapatkan pekerjaan “pasti” dan IT yang sekarang sedang marak ditarik oleh perusahaan startup, susah menyamakan derajatnya dengan ilmu murni.

Dulu. Sekarang beda.

Buka halaman ini dari QS ranking, cari bagian key skills. Kemampuan yang disebutkan adalah apa yang diharapkan dari seorang lulusan Fisika, antara lain:

  • Memahami dan menganalisis data yang kompleks
  • Memecahkan masalah dengan analitis dan pragmatis/realistis
  • Terlatih untuk melihat detil dari masalah (attention to detail)
  • Mampu mengkomunikasikan ide yang kompleks
  • Membuat argumen yang logis
  • Mengatur waktu dan merencanakan tugas, tepat waktu sesuai deadline.

Apabila kita menuju ke LinkedIn, salah satu perusahaan yang saya pernah lamar (kemudian terdepak saat wawancara), membuka lowongan dengan judul Business Strategy Analyst. Persyaratannya adalah sebagai berikut:

  • Lulusan S1 Matematika, Akuntansi, Ilmu Komputer, Manajemen Informasi, atau Teknik dengan IPK di atas 3,5
  • Pengalaman 2 tahun ke atas
  • Berinisiatif dan dapat memecahkan masalah
  • Bersifat goal-oriented dan melebihi ekspektasi
  • Berbahasa Inggris dengan baik (tersirat, karena lowongannya dalam bahasa Inggris)

Saya mendaftar dengan CV saya (2015, sama dengan LinkedIn), dan berhasil hingga wawancara ke-2. Saya diwawancara oleh perwakilan divisi yang akan menerima saya. Pengalaman saya 0 tahun, IPK di bawah 3,5, peminatan Fisika Material Terkondensasi, dan pengetahuan tentang bisnis terakhir saya adalah saat jual majalah dan coklat di SMP.

Oke, mungkin ada hal lain seperti memenangkan OSN Pertamina dan pengalaman di Shanghai dapat menjadi tambahan. Tapi ingat, secara teknis, saya tidak memenuhi persyaratan.

Namun demikian, kalau diperhatikan, kemampuan yang dibutuhkan di posisi tersebut tidak jauh dari ekspektasi seorang lulusan Fisika. Masalah yang dihadapi adalah masalah yang lebih kompleks dari permasalahan sehari-hari. Kemampuan mengatasi masalah itu dibarengi dengan cara berpikir yang kritis, analitis, dan juga relevan. Terutama bagi yang melakukan komputasi, ilmu pemrograman sangat penting dan sangat mudah diaplikasikan.

Kembali ke halaman QS, pilih opsi karir. Di situ, penjelasan dimulai dengan kutipan dari Simon Singh:

“I reckon that physicists can do pretty much anything. Our training can be applied to almost any activity, and it allows us to see things in ways that might not be obvious to others.”

Ini adalah poin yang ingin saya sampaikan. Mempelajari Fisika membuat kita terbiasa dengan memecahkan masalah dan menyelesaikannya secara logis. Ini adalah kemampuan yang sangat dibutuhkan di lapangan kerja manapun. Seperti di laman tersebut, contoh lapangan pekerjaan selain di dunia akademik adalah di bidang teknik mesin, astronomi, nuklir, dsb.

Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh AIP (American Insititute of Physics). Laporan tahunan yang mereka lakukan dapat diunduh secara gratis, dan meliputi statistik untuk lulusan S1, S2, dan S3. Salah satu hal yang menarik adalah laporan lulusan S1 di AS.

jepretan-layar-2017-01-22-pada-18-18-31

Meskipun terlihat bahwa lulusan yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi vs. bekerja tidak berbeda jauh (41% dengan 54%), yang terpenting adalah jumlah lulusan yang tidak bekerja. Hanya 5%. Untuk perbandingan, teman-teman saya yang se-almamater hampir semua sudah mendapat pekerjaan. Bidang yang digeluti antara lain manajemen inventaris, keuangan, badan riset pemerintah, akademis, guru, wiraswasta, dan IT.

Sepertinya Simon Singh benar juga. Meskipun terlihat penuh dengan teori, rumus, dan matematika yang rumit, pelajaran Fisika dapat diterapkan kemana-mana. Tentu saja, ini dengan pemelajaran yang tidak singkat. IT memerlukan pengalaman di pemrograman, sehingga fisikawan yang terbiasa dengan bahasa seperti C, Fortran, dst. harus mempelajari bahasa lain yang lebih aplikatif, misal Python atau Java. Bisnis dan manajemen memerlukan kemampuan berkomunikasi dan berorganisasi yang baik, oleh karena itu keikutsertaan dalam acara kampus dan menjadi anggota himpunan mahasiswa patut dikerjakan.

Semuanya bisa diatur.

Tapi apakah itu cukup? Apakah gelar S.Si tetap menjadi penghadang meskipun kemampuan yang dimiliki sepadan dengan lulusan jurusan lain?

Menggapai Mimpi

Sebelum menjawab itu, kita kembali ke pertanyaan awal.

Sekarang, pertanyaan yang membuat hati para fisikawan mendebar-debar (karena sungguh tidak sabar memberikan wawasan kepada sang penanya, tentuya) sudah bisa dijawab.

Fisika perginya bisa ke mana saja, selain bidang akademis, para S.Si (Sarjana Sains) ini dapat bekerja di badan riset pemerintah atau swasta, komputer, komunikasi, IT, Teknik, bahkan Medis. Kemampuan yang dilatih selama S1  adalah literasi komputer, pemrograman, analisis data, pemecahan masalah, dan berpikir secara analitis dan logis. Sehingga, banyak bidang yang bisa digeluti setelah melalui jurusan Fisika.

Kalau kamu bertemu dengan ibu-ibu di jalan ketika berbelanja di pagi hari dan ditanya lagi, amunisi sudah ada. Bahkan, mungkin menginspirasi beberapa pembaca untuk memikirkan mengambil Fisika. Mengutip Simon Singh lagi, fisikawan dapat melihat sesuatu yang belum tentu terlihat jelas bagi orang lain. Menurut saya itu sangat dibutuhkan, baik dalam pekerjaan apapun. Tentunya, pastikan agar tidak menyerah untuk bisa mendapatkan sudut pandang unik tersebut. Semangat ya 💪💪💪

Mengenai bagaimana dunia kerja, dampak gelar S.Si, dan petualangan lainnya, saya lanjutkan di kirimin (baca: post, postingan) selanjutnya. Stay tuned!


Bonus:

Tapi jelas beda, lulusan IT pasti lebih mudah masuk pekerjaan yang berhubungan dengan IT (e.g. software developer / pengembang perangkat lunak). Fisika kurang bagus, dong?

  1. Bagi lulusan IT yang bekerja di bidang IT, maka mereka memang lebih mudah karena dari awal sudah dijuruskan untuk menuju ke pasar tersebut. Bagi fisikawan, itu bagaikan kerja di BATAN atau asisten dosen di bidang akademis.
  2. Seperti yang sudah dikatakan, dengan pelatihan tambahan yang terkait dengan bidang lain, fisikawan dapat menerapkan ilmu yang sudah didapat, mis. penyelesaian masalah, memroses data, memikirkan konsep abstrak, dll. Lulusan IT tidak mendapatkan training ini secara khusus, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk mempelajari kemampuan ini.
  3. Dengan berkembangnya zaman, makin banyak pekerjaan yang membutuhkan lebih dari satu disiplin. Salah satu contohnya adalah Machine Learning (Pembelajaran Mesin), yang nyatanya fisikawan sangat nyaman untuk berkecimpung dalam bidang ini (lihat artikel ini). Beberapa grup riset di Fisika pun juga menggunakan Machine Learning dalam memecahkan masalah yang sulit.
  4. Semua jurusan di perguruan tinggi memberikan ilmu tambahan yang pasti bermanfaat untuk karir. Untuk mencapai karir kamu inginkan, memilih jurusan yang tepat adalah salah satu langkah utama dalam hidup. Fisika baik untuk mempelajari tentang bagaimana alam bekerja. Jurusan lain memiliki tujuan yang berbeda.

NB: Saya baru terpikir argumen ini setelah selesai menulis. Jadikan bonus bisa kan? Oke bisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s